Sabtu, 25 April 2009

Kesenian Islam yang Dinamis

Kesenian Islam yang Dinamis
Ditulis oleh Baitul Amin
Persis sehari sebelum acara Tabligh Akbar, tepatnya Sabtu malam (15/11) pukul 19.30 – 23.30 WIB, Surau Baitul Amin Sawangan menggelar hiburan dengan mengadakan Kompetisi Marawis. Mengapa Marawis?

Menurut Pengurus III Surau Baitul Amin Sawangan H. Akhmad Syukran Bestari, SE, MMSi., lomba marawis ini bermula dari acara malam Peringatan Hari Kemerdekaan RI - 17 Agustus lalu. Saat itu ada sumbangan penampilan kelompok marawis dari ibu-ibu di sekitar surau, yang penampilannya sungguh mengesankan. ”Marawis musiknya dinamis, enak didengar, dan tak perlu banyak alat untuk dimainkan. Lagu-lagu yang disenandungkan syarat dengan tuntunan agama dan pujian terhadap Rasulullah.” ucap Bang Arie yang mengistilahkan marawis sebagai musik “user friendly”. Disamping itu, sejumlah kelompok pengajian ibu-ibu yang sering mengikuti tausiyah di Surau Baitul Amin, mempunyai kelompok marawis. Oleh sebab, dalam rangkaian kegiatan Tabligh Akbar sembari menjalin silaturahim dengan kelompok-kelompok marawis yang lain di wilayah Depok dan sekitarnya, panitia menyelenggarakan kompetisi marawis.

Ir. Agus Suryana, Ketua Panitia Kompetisi Marawis & Tabligh Akbar, mengatakan kompetisi marawis diikuti 15 peserta dari Depok dan Jakarta Selatan, hadiah berupa tropi dan uang tunai senilai Rp 3 juta bagi pemenang I, tropi + Rp 2 juta bagi pemenang II, dan tropi + Rp 1 juta bagi pemenang III. Ketiga pemenang berkesempatan tampil di acara Tabligh Akbar. ”Sama dengan Tabligh Akbar, Kompetisi Marawis direncanakan menjadi agenda berkala oleh Surau Baitul Amin Sawangan,” tegas Bang Agus.

Untuk acara Kompetisi Marawis maupun Tabligh Akbar, lanjut Bang Agus, panitia menyediakan gelaran karpet bagi penonton agar bisa menyaksikan aksi peserta dengan duduk lesehan. Panitia juga sangat memperhatikan masalah keamanan dan tempat parkir. Menurut Bang Agus, untuk aspek keamanan akan berkordinasi dengan Pokdar (Kelompok Sadar), Masyarakat setempat dan Anshor keamanan lingkungan setempat. Termasuk pengaturan parkir kendaraan, baik untuk undangan maupun pengunjung umum.

pentingnya kesenian untuk semua umur

Pentingnya Pendidikan Kesenian untuk Segala Usia
Submitted by sari220187 on Tue, 10/16/2007 - 06:19.

Berikut ini adalah artikel dari Harian Kompas, terbitan Jumat, 12 Oktober 2007.

Tertulis dengan begitu baik, artikel ini mengajak kita warga debataraja (secara tidak langsung) untuk aktif menerapkan pendidikan kesenian dalam rangka mengejar ketertinggalan. Baiknya memang mulai dipupuk di generasi muda, khususnya anak-anak, tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk dewasa ataupun yang sudah 'berumur'. Belajar adalah proses seumur hidup.



Kesenian sebagai Pembelajaran Nilai

Secara Holistik, Seni Terkait Sistem Masyarakat



Jakarta,
Kompas - Kesenian dapat menjadi media, bahkan sangat potensial menjadi
pembelajaran nilai-nilai. Kesenian tidak sekadar media pencapaian nilai
estetik, dari sisi kontekstual kesenian mempunyai muatan nilai-nilai
lain yang akan membantu pembentukan kepribadian.

Ketua
Asosiasi Tradisi Lisan, sekaligus pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan
Budaya Universitas Indonesia, Pudentia MPSS mengatakan, ketika orang
berkesenian, sebetulnya orang tengah mempelajari banyak nilai seperti
kedisiplinan melalui kepatuhan terhadap jam berlatih, ketaatan terhadap
pakem kesenian tertentu, dan kerja sama dalam tim.

Kesenian
di daerah dan seni tradisi dapat menjadi sumber pembelajaran yang
sangat baik. Terlebih lagi, kesenian tradisi yang masih terus hadir di
dalam masyarakatnya berarti telah mengalami seleksi secara alami dalam
arti masih dipandang berfungsi, dipandang indah, bernilai, sebagai
simbol-simbol ekspresi masyarakatnya, dan mengandung nilai-nilai baik.
Dalam kesenian biasanya juga tergambar kearifan lokal yang terbukti
berfungsi untuk mengatur hidup komunitas.

Berkesenian
membuat individu lebih peka terhadap kehidupan sekitarnya dan manusia
lain. Kesenian dengan berbagai bentuknya terkadang merupakan gambaran
dari kehidupan itu sendiri.

"Semakin
terlatih dalam kesenian, anak mempunyai orientasi nilai yang baik dan
berperasaan halus. Mereka akan mudah untuk diajarkan peka terhadap
kehidupan sekitarnya. Ketika belajar menari, misalnya, anak tidak hanya
belajar meniru gerakan, tetapi juga seharusnya mendalami mengapa tarian
itu ada dan filosofinya. Demikian juga dalam sastra. Anak tidak sekadar
diajarkan membaca dan menirukan bunyi. Namun, yang terpenting ialah
bagaimana memberikan penafsiran terhadap bacaan dan mencoba
memikirkannya," ujarnya.

Pudentia
menjelaskan, pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai harus menekankan
kepada proses. Sulit jika iklim dunia pendidikan lebih menekankan
kepada hasil seperti belakangan terjadi dengan adanya Ujian Nasional.
Penanaman nilai dimulai dengan mengetahui nilai tersebut, memahaminya,
mengapresiasi, menginternalisasikan nilai tersebut, dan kemudian
mewujudkannya dalam bentuk perilaku.

Holistik terkait

Direktur
Eksekutif Lembaga Pendidikan Seni Nusantara Endo Suanda mengungkapkan,
pendidikan kesenian cenderung modernis atau terpisah dari sektor
lainnya. Pendidikan kesenian yang modernis menggunakan paradigma Barat
lama dengan pendekatan antara lain kesenian dibagi menjadi beberapa
jenis, seperti seni musik, teater, dan tari.

Selain
itu, terdapat kecenderungan untuk merumuskan kesenian yang baik,
terutama dari sisi nilai estetika. Padahal, kesenian tidak sekadar
melihat estetika saja. Pendidikan kesenian kurang melihat kesenian
terkait secara holistik dengan sistem masyarakat. Padahal, dengan
melihat konteks kesenian, akan mencuat nilai-nilai. Oleh karena itu,
pendidikan kesenian harus dilihat secara bijak.

"Pendekatan
pendidikan apresiasi kesenian yang didasarkan kepada kesenian
terkotak-kotak itu membuat kita kurang menghargai perbedaan. Padahal,
tidak ada nilai yang tunggal atau absolut. Di Barat sendiri pendekatan
itu mulai ditinggalkan dan digantikan dengan cultural base education
dan community base education yang melihat kesenian dari sisi
kehidupan." ujarnya. (INE)